Kamis, 05 Januari 2012

Mesir Tidur Satu Tahun ? Silahkan...



“Ku tahu yang ku mau”. Inspirasi kata ini yang membuat saya tertarik untuk menuliskan fenomena budaya orang Indonesia yang ada di Mesir terutama apa yang saya ketahui dari mata kepala sendiri. Bagi sebagian orang negara ini adalah negeri impian. Orang beragama islam menganggap negeri ini sebagai tanahnya para nabi, bagi pecinta sejarah, negeri ini adalah tempat yang tepat untuk mengeruk info sebanyak-banyaknya tentang kehidupan masa lalu. Bagi pemalas, negeri ini adalah tempat tidur. loh!

Sebelum membahas lebih jauh kenapa saya mengatakan demikian, akan saya sebutkan dulu kronologinya. Semua orang tahu kalau budaya arab itu adalah budaya terbuka sekaligus tertutup. Jika menyangkut kebutuhan sosial, masyarakat arab termasuk terbuka. Mesir terbuka dengan kebudayaan-kebudayaan lain yang masuk ke negaranya, percampuran budaya sangat terasa jika mau mempelajarinya, Cairo identik dengan budaya islamnya, Alexandria dengan budaya Yunaninya dan Luxor budaya fir’aunnya.
Tetapi bagaimanapun juga Mesir adalah negeri yang hampir seluruh penduduknya adalah beragama Islam dan beberapa persen yang beragama kristen ortodok koptik. Dari budaya islam ini, masyarakat Mesir memperlakukan budaya yang tertutup untuk urusan dibalik tirai alias keluarga. Konsekuensi dari tertutupnya budaya keluarga dimanifestasikan salah satunya dengan bentuk bangunan yang ada.


Pintu yang selalu tertutup, jendela yang juga tertutup dan bentuk rumah yang tidak transparan dan tidak bisa dilihat dari luar merupakan pemandangan yang sudah biasa. Jangan sampai orang lain bisa melihat isi rumah dari luar adalah prinsipnya. Ini adalah bagian dari kehormatan yang tidak semua orang bisa menyicipinya.
Dengan budaya seperti ini juga mempengaruhi cara hidup orang Indonesia yang ada di Mesir. Dari satu sisi, budaya tertutup soal keluarga bisa meminimalisir adanya fitnah karena budaya mengintip menjadi nihil.

 Rahasia rumah bisa terjaga dengan aman. Tidak ada orang yang akan meng’ghibahi’ keadaan keluarga yang hidup di dalam rumah.
Tetapi di sisi lain, budaya tertutup ini juga menjadi kesempatan untuk para pemalas. Umumnya pada saat musim panas seperti sekarang, siang hari matahari sangat terik dan hawa sangat gerah, sehingga malas keluar rumah. Malam hari juga malas karena tidak memiliki alasan kenapa keluar rumah. Pada saat musim dingin, malas keluar rumah karena cuaca sangat dingin, pada saat malam hari lebih malas lagi karena udara semakin dingin.


Jika tidak mampu mengelola waktu dengan baik dengan kegiatan yang bermanfaat untuk diri sendiri, bukan tidak mungkin tidur satu tahun menjadi keturutan. Tidak akan ada tetangga yang ‘ngerasani’ karena adanya budaya yang tertutup. Bentuk apartemen juga sangat tertutup dengan pintu rumah yang jarang terbuka.
Pihak kampus Al-Azhar pun tidak pernah mewajibkan mahasiswanya untuk aktif kuliah, sehingga walaupun dua tahun tidak pernah masuk mengikuti jam aktif kuliah dan tidak mengikuti ujian semester, juga tidak akan pernah keluar gugatan.

 Prinsip hidup di Mesir adalah “nafsiy..nafsy..”, hidupku adalah hidupku. Beruntung kalau ada seorang sahabat yang saling menasehati. Kalau tidak umur akan habis hanya untuk tidur dan tidur.
Dengan kondisi bebasnya hidup di Mesir seperti ini juga menjadikan organisasi-organisasi Indonesia sangat kreatif untuk mengisi waktu yang ‘kebanyakan’ luang. Mulai dari kegiatan yang ‘ringan’ hingga ‘berat’ semuanya ada. Diskusi pengetahuan yang melibatkan para ilmuan modern Mesir banyak ditemukan begitu juga kegiatan kekeluargaan yang sederhana juga ada. Untuk pecinta sepakbola, organisasi itu juga menyediakan pertandingan-pertandingan persahabatan.

Kalau untuk musim liburan musim panas saat ini, organisasi kekeluargaan banyak yang mengadakan rekreasi bersama ke tempat-tempat wisata yang tersebar di Mesir. Ada yang memberikan rekreasi sejarah juga ada yang hanya rekreasi “kongkoi-kongkoi” santai di pantai. Mesir kaya akan tempat wisata, tinggal memilih mana yang pas buat ongkosnya.


Wilayah-wilayah Mesir yang sering menjadi tujuan wisata adalah Alexandria, ‘ain sokhnah, gunung  sinai, sarm sheikh, pantai dahab, marsa matruh, hurgada, LA (luxor aswan) dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya tuliskan di sini karena kalau disebutkan secara rinci malah menambah rasa penasaran di hati.
Jika dikalkulasi, masa liburan lembaga  pendidikan di Mesir memang sangat panjang terutama untuk universitas apalagi Al-Azhar. Secara general, masa aktif kuliah di kampus tidak ada setengah tahun dan setangah tahun sisanya adalah libur. Dari keadaan ini menjadi sebuah tantangan bagi seseorang yang penasaran tentang ilmu, tetapi bagi yang santai jawabannya ya tidur atau nge-game atau ngefesbuk untuk menghabiskan hari dan jam.


Inilah catatan ringan sekilas tentang budaya terbuka dan tertutup Mesir yang berpengaruh terhadap cara hidup orang-orang yang bermukim di dalamnya. Bagi anda yang suka berpetualang di ‘universitas’ kehidupan, Mesir bisa menjadi pilihan. Mesir memang negara muslim, tetapi segala pemikiran apa saja akan bisa ditemukan di sini, hingga pemikiran tentang tidur sepanjang masa.

3 komentar:

crazy man mengatakan...

bagus brow...........
semoga aje lu udah nyoba. :P

Areef El-bimai mengatakan...

Mari mengambil Sesuatu di dalamnya...
tinggal Pilih NABI MUSA ATAU FIR'AUN :D

Ma'an Najah Bro...

woman paris mengatakan...

j'espère ....